Saturday, December 31, 2022
Monday, December 05, 2022
Sunday, December 04, 2022
Saturday, December 03, 2022
Friday, December 02, 2022
Thursday, December 01, 2022
A DAY IN MY LIFE
Halo Hola people,
Apa kabar hari pertama untuk Desembernya?
Semoga tetap kuat hati dan mentalnya yes. Ngerasa nggak sih 2022 tuh terasa agak cepat banget haha. Tetiba udah di penghujung tahun aja. Tahu-tahu menuju 2023 aja.
Udah dari kapan kepikiran mau buat A Day in My Life macam ibuk Dhatu Rembulan gitu. Dan taraa... hari ini A Day In My Life versi seorang LIFAH pun launching *sujud syukur jiwa mager berhasil dienyahkan haha.
Karena kebanyakan orang buatnya versi video (termasuk ibuk Dhatu rembulan pastinya), saya putuskan buat yang versi tulisan blog aja. Biar saling melengkapi gitu. *Ah bilang aja mager rekam dan edit video kan, Fah?!. Haha
Selamat menikmati tulisan ini..
BANGUN TELAT
Ibuk adalah alarm tahajud sepanjang hidup. Alarm handphone diatur mendekati waktu subuh untuk jaga-jaga semisal ibuk kesiangan.
Dan hari ini ternyata ibuk kesiangan, satu rumah juga ikutan haha. Menuju adzan subuh, alarm handphone jadi pahlawan untuk kami sekeluarga. Saya adalah member yang pertama bangun karena suara alarm.
"Subuh subuh. sholat sholat", kata saya sepanjang lorong melewati dua pintu kamar yang berjajar.
"Yah, nggak tahajudan deh", kata ibuk sambil berlalu menuju kamar mandi.
Ambil wudhu, lanjut sholat. Kelar lipaat sajadah, melipir ke kamar (lagi) untuk absen baca tulisannya pak Dahlan Iskan. Kira-kira sepuluh sampai lima belas menit. Kelar baca, lanjut baking pesanan martabak mini untuk bestienya ibuk. Agak mengejutkan sih tetiba ibuk jadi buka PO Martabak mini haha. Definisi Ibu yang buka PO, saya yang sibuk baking. Ini gimana ceritanya sih?! haha. Tapi Alhamdulillah disyukuri.
Kelar toping dan packing martabak, lanjut mandi yang nggak pakai lama. Kira-kira 10 menitan maksimalnya. Kenapa? karena mandi lama di pagi hari, terlebih di hari kerja, peluang pintu kamar mandi digedor ibuk adalah 99% sih haha.
"Gantiaaaaan mba!" senjata pamungkasnya ibuk saat gedor pintu kamar mandi untuk menyudahi kegiatan anaknya di dalam kamar mandi π€Έπ».
Sudah rapih, sudah sarapan, dan yang pasti sudah cantik, saatnya berangkaaaat.
SAMPAI SEKOLAH π
Karena (tumben) jalanan sepi yang otomatis nggak macet di pertigaan Al-Azhar Summarecon, sekitar dua puluh menit-an sudah sampai parkiran sekolah.
Masih ada waktu lima belas menit menuju masuk kelas. Melipir ke ruang komputer untuk print materi kelas hari selanjutnya. Nyambi nunggu selesai print, seperti biasa, nge-youtubelah saya sambil cek email untuk bersih-bersih spam.
MASUK KELAS
Pukul 07.27 wib bel tanda masuk kelas terdengar di penjuru ruangan. Refleks pandangan menuju jam dinding, ternayat bel-nya bunyi lebih cepat tiga menit dari yang seharusnya -________-. Karena nggak mau rugi (lumayan tiga menit ya kan), selesai kelas niatnya mau komplain ke mamang Jajat yang bunyiin bel. Kalau nggak lupa ya karena seringnya sih lupa haha. *dan ternyata beneran LUPA.
SELESAI KELAS
Bagaimana sepanjang mengajar murid hari ini?!
Seperti biasa, selalu ada drama "tarik nafas banyak-banyak, hembuskan". Selebihnya baik-baik saja.
*tunggu tulisan tentang #pojokkelas-nya ibuk guru dan murid-murid ya. Seru deh. Soon.
Pukul 10.05 wib naik ke ruang terapi di lantai dua untuk igot cogotnya terapi. Lagi pusing-pusingnya urus drama klaim asuransi murid terapi. Dan kali ini bukan cuma satu tapi klaim, tapi ada dua klaim yang berdrama.
*Dret dret dret getar alarm handphone dari dalam laci meja. Pertanda sudah pukul 11.00 wib yang mengharuskan saya turun ke bawah untuk dampingi Belva (cucu pemilik yayasan) ♡ belajar baca tulis hitung. Alhamdulillah full senyum sampai selesai. Meski dengan drama "ayo pulang" di sela-sela belajarnya.
ISHOMA (istirahat sholat makan)
Hari ini mutusin untuk nggak jajan di depan masjid Al-Muhajirin seperti Kamis biasanya. Nggak punya semangat buat jalan kaki jauh tsaay. Pun malas nyalain mesin motor. Akhirnya mutusin beli warteg yang walaupun mesti jalan kaki juga, tapi ya lebih dekat ketimbang jalan sampai depan masjid. Demi makan siang. Haha
Menu warteg hari ini nasi cumi cabai hijau, jamur oseng ditambah kikil bumbu kuning. Cukup 15.000 rupiah udah berlimpah banget lauk pauknya. Plus dapat es teh tawar gratis pula. Semisal jajan depan masjid udah pasti keluar uang lebih dari harga nasi warteg. Seblak 10.000, rujak jambu kristal 10.000, belum lagi teh tarik warung madura 6.000. Definisi jiwa mager bisa menghemat pengeluaran nggak sih. Kelar makan lanjut sholat. Selesai sholat, rapih-rapih ruangan persiapan pulang. *Mari pulang marilah pulang (bacanya pakai nada, please!
RUMAH
Arrived safely. Karena jalanan siang ini sama sepinya seperti pagi tadi, pukul 13.20 wib udah bisa duduk manis di kursi ruang tamu. Istirahat sebentar lanjut cuci kaki, muka, salin baju, melipir ke kasur. Tidur siang tuh sebisa mungkin saya lakuin untuk charge tenaga supaya kuat sampai malam. Karena ya masih ada setumpuk aktivitas yang udah nungguin.
Pukul 15.30 wib getar alarm handphone memaksa saya untuk bangun. Ashar-an, lanjut jemput ibuk negara. Sampai rumah langsung ngupik abu supaya leyeh-leyehnya bisa agak lama. Kelar ngupik abu, mandi lanjut ngedrakor. It's time to leyeh-leyeh ceunah. Oh iya saya lagi nontonin drama korea yang judulnya "Revenge Other". Drama trailer versi anak SMA. Pemainnya Shin Ye Eun dan Park Salomon. Menuju kelar dua episode, adzan Maghrib pun berkumandang, melipir wudhu, sholat, lanjut manjangin ain bacaan, hafalan surah, dan nggak lama kemudian adzan isya. Yuk Isya-an.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh" *please, bacanya pakai nada!
Ega dan Fida datang. Dua siblings yang sebentar ribut sebentar akur, hari ini datang lebih awal. Alasannya supaya cepat selesai jadi bisa pulang untuk main handphone lebih lama. Haha
Malam ini, satu belajar kisi-kisi penilaian akhir semester. Satunya kerjain PR IPA yang bentuknya ala-ala teka-teki silang. Alhamdulillah full senyum sampai selesai. Sampai mereka pulang. Nggak ada drama seperti hari-hari biasanya.
Jam menunjukkan pukul 20.30 wib. Jiwa raga maunya melipir ke kasur untuk rebahan. Tapi kepikiran belum buat materi kelas untuk lusa. Akhirnya ya buka laptop. Karena tahu pasti besok pagi nggak mungkin bisa multitasking. Urus materi juga baking martabak, belum lagi absen baca tulisan pak Dahlan Iskan via disway.id.
Selesai ketak-ketik materi kelas, lanjut skincare-an. Di sela-sela nunggu toner dan teman-temannya terserap dengan baik di kulit wajah, tulisan ini pun dibuat.
-END-
Terima kasih sudah membaca A Day In My Life-nya seorang Lifah. Sampai jumpa ditulisan berikutnya ya ♡
Monday, October 03, 2022
OKTOBER TOGA
Halo hola semua ♡
Terima kasih sudah berkunjung ke blog ini. Selamat membaca cerita oktober toga ya ♡
Ini ceritaku, seorang pekerja dan mahasiswi yang akhirnya mendapatkan gelar sarjana setelah perjalanan panjang selama empat setengah tahun.
Hari itu adalah hari yang tidak akan pernah aku lupakan. Hari dimana jantungku berdetak lebih cepat dibanding biasanya. Saat langkah kaki menaiki satu persatu tangga lobi kampus menuju ruang fakultas di lantai dua. Ada perasaan campur aduk yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Berisik dan riuh sekali di kepala.
Hari itu, aku menerima sebuah amplop putih dari kampus yang aku pilih setelah melewati semua kecewa yang datang dalam bentuk takdir.
Kampus swasta yang menjadi pilihan satu-satunya setelah memutuskan untuk mengubur mimpiku menjadi mahasiswi di Universitas Negeri yang aku dambakan. Aku menerimanya meski lewat tangis berkali-kali.
Masih di ruang fakultas, pelan-pelan kubuka amplop putih berukuran 7 x 12 cm dengan tangan yang masih gemetar. Di dalamnya tertulis nama indah pemberian kedua orang tuaku. Lebih tepatnya, nama yang ibuk pilih untuk anak perempuan satu-satunya di keluarga. Satu dari sekian hal indah yang aku miliki sepanjang hidup adalah namaku. Aku menyukainya tanpa tapi.
Sesampainya di parkiran kampus, sebelum amplop putih itu kumasukkan ke dalam tas punggungku, aku menatapnya sekali lagi. Memastikan itu bukan mimpi. Memastikan bahwa benar, aku berhasil melewati badainya, dan aku berhasil bertahan.
Sepanjang jalan pulang, air mata masih terus membasahi pipi. Rasanya masih tidak percaya aku mampu sampai di titik ini. Setelah semua lelah dan tangis yang aku lalui.
Di rumah, ibuk adalah orang pertama yang membuka amplop itu. Matanya penuh binar saat membaca kata demi kata. Bahkan ibuk memberiku selamat dan sebuah pelukan hangat.
Dua minggu sebelum hari kelulusan, aku dengan antusias menyiapkan segalanya. Sendiri dan bersikeras tidak ingin dibantu siapapun. Termasuk ibuk yang beberapa kali memaksa untuk terlibat.
Aku, memesan satu set kebaya merah muda di market place langgananku. Yups, aku tidak salah ketik dan kalian tidak salah baca. Aku memilih warna merah muda. Warna yang bahkan tidak ada dalam list warna favoritku. Selain kebaya, aku juga membeli sepasang wedges hitam di Mall yang lokasinya tidak jauh dari tempatku bekerja.
Satu minggu sebelum Oktober datang, aku membeli satu gamis tosca untuk ibuk gunakan saat mengantarku ke acara wisuda dan membelikan sepasang sandal dengan sol hitam mengelilingi untuk bapak. Sesuai keinginannya.
Aku memilih MUA lewat rekomendasi teman sepertetanggaanku, Ari. Ari adalah sahabatku sedari kecil. Ia adalah manusia baik hati yang juga merekomendasikan kampus itu dan membuatku yakin untuk mendaftar.
Dan hari ketiga untuk bulan ke sepuluh pun tiba. Pagi itu, setelah selesai make up, aku diantar oleh adik menuju kampus dengan motor Beat merah yang bahkan sampai hari ini masih menemani hari-hariku. Ini tahun ke empat belas Beat merah karbu itu membersamaiku. Sementara ibuk, bapak, adik, dan kakakku menyusul dengan mobil yang kakak rental dari temannya.
Sepanjang jalan menuju kampus, ingatan di kepala seakan berlari ke arahku bersama semilir angin yang menekan wajah. Ingatan tentang perjalananku menjadi seorang pekerja dan mahasiswi secara bersamaan. Tentang bagaimana aku membagi waktu untuk dua hal yang aku perjuangkan. Pagi untuk bekerja dan sore untuk kuliah. Ingatan tentang bagaimana aku mengatur keuanganku karena memutuskan untuk membiayai hidup dan kuliahku sendiri tanpa bantuan siapapun.
Aku ingat betul titik terendah sebagai seorang mahasiswi adalah hari dimana aku mendebat pembimbingku, mengeluarkan pandanganku, kemudian memohon untuk tidak mempersulitku menyelesaikan dua bab terakhir skripsiku. Debat kusir yang alot. Aku kalah. Tapi aku menang. Aku kalah karena pada akhirnya harus mengisi KRS (Kartu Rencana Studi) tambahan untuk semester sembilan demi dua bab terakhir skripsiku, Aku menang karena setidaknya aku tidak menangis di hadapan dosen pembimbing satu dan semua karyawan di ruang fakultas. Dan yang terpenting aku menang karena mampu mengontrol setiap kalimat yang keluar dari mulutku saat debat kusir terjadi.
Hari ketiga untuk oktober 2018 akan menjadi bagian dari hidupku yang penuh haru, antusias, harapan, jawaban atas doa-doa yang pernah aku langitkan, serta senyum dan binar indah tatapan ibuk yang ikut menyaksikan dan merayakan pencapaian anak perempuan satu-satunya di keluarga. Di hari itu aku tersadar bahwa toga dan gelar yang aku dapatkan adalah sebuah kemenangan atas semua hal yang sudah aku lalui sepanjang empat setengah tahun.
Akhirnya, aku menjadi sarjana. Meski bukan dari kampus negeri yang aku dambakan, tapi ini sudah lebih dari cukup. Aku menikmati setiap langkah perjalananku. Mengapresiasi setiap keputusan yang aku buat sepanjang empat setengah tahun menjadi seorang mahasiswi.
Mungkin aku tidak secepat langkah manusia lain. Tapi setidaknya aku tetap bergerak dan maju, aku tetap sampai di garis finishku. Aku tetap bertahan dan tanpa sorotan. Aku menerima dan menjalani takdirku dengan baik. Aku melakukan bagianku dengan setia. Aku menang dari semua putus asa yang datang dan dari semua lelah yang menusuk relung hati.
Prosesnya mungkin panjang, berat, bahkan penuh luka tapi aku tidak sendiri menjalaninya. Ada Allah yang memegangku saat tubuh ini tidak sanggup untuk berdiri atas apa yang sedang aku usahakan, ada doa-doa indah bapak dan ibuk yang selalu memberiku semangat setiap aku ingin menyerah, serta syukur yang dengan tekun kusirami.
Hari ketiga untuk Oktober 2018 adalah hari dimana aku bisa mematahkan setiap kalimat yang pernah dikatakan seseorang bahwa anak bapak dan ibuk tidak akan ada yang mampu meraih gelar sarjananya.
Hidupku yang saat ini aku jalani adalah milikku bukan milik siapapun. Suara riuh itu tidak akan membuatku patah. Tidak ada yang bisa mendikte takdirku. Tidak ada yang bisa menjatuhkanku tanpa seizinku. Akulah yang memegang setiap kendali. Bukan siapapun.
Dan yang terakhir, meski terlambat, aku ingin berterima kasih untuk manusia-manuaia baik yang tetap bersamaku di titik terendahku sebagai seorang mahasiswi.
π»Untuk diriku, terima kasih sudah berjuang. Aku mencintaimu lagi dan lagi. Aku menghormatimu dalam bentuk yang paling indah dan hancur. Kamu berhak dan layak atas toga wisuda itu.
π» Untuk keluargaku
Dear ibuk, bapak, adik, dan kakakku terima kasih sudah mendukungku sampai akhir. Terima kasih untuk buket bunga dan hadiah yang aku terima di hari wisudaku.
π»Bang Andriy, teman kelasku di TIF B Sore. Dear bang Andriy, terima kasih sudah membantuku sampai akhir. Terima kasih karena tidak berisik dan tetap sabar menghadapiku. Semoga bang Andriy selalu bahagia dengan keluarga kecilmu ya. Maaf karena tidak menyaksikan akadmu.
π»Ibu dosen pembimbing dua. Untuk ibu Hafiza, terima kasih karena tidak sekalipun mempersulitku saat bimbingan skripsi. Terima kasih sudah memberiku kesempatan untuk berpendapat, membujuk pembimbing satuku untuk memberikan tanda tangannya agar aku bisa mendaftar sidang di batas akhir pendaftaran akhir tahun. Semoga selalu dalam lindungan Allah Swt.
π»Mas Adi, teman kelas TIF B Sore. Dear Mas Adi, terima kasih sudah menjadi jembatan untukku dan staff fakultas berkomunikasi. Terima kasih sudah membantu menghubungi staff fakultas untuk menungguku sampai di kampus untuk mendaftar sidang di hari dan menit-menit akhir waktu pendaftaran sidang. Panjang umur sehat selalu ♡.
π» Bapak dosen favoritku.
Pak Adi adalah dosen favoritku selama menjadi mahasiswi yang menjadi pengujiku di ruang sidang skripsi.
Dear pak Adi, terima kasih sudah memberiku jeda untuk menjawab pertanyaan dengan data yang aku kumpulkan. Terima kasih sudah membantuku saat dosen pembimbing satuku menjatuhkanku di ruang sidang.
π» Ibuk di tempat kerja
Dear Mama Woro, terima kasih selalu membelikanku makan siang dan camilan camilan enak setiap kali mengantar Woro terapi di sepanjang aku mengerjakan skripsiku. Semoga Allah melapangkan kubur mama Woro ♡.
Saturday, July 02, 2022
SATU DASAWARSA
Dalam perjalanan pulang yang ditemani playlist solo album pertamanya D.O EXO. Track list di albumnya bagus semua ♥. Dan dua terfavorit adalah I'm gonna love dan I'm Fine-nya.
"Bagaimana rasanya menuju 10 tahun zona nyaman, fah?," tiba-tiba suaranya membumi di kepala.
Suara yang disponsori oleh dia yang mengenal saya lebih dari SATU DASAWARSA. Beberapa hari lalu, dengan izin saya tentunya.
Me: Apa iya?! π
Sampai di rumah, suaranya tetap berisik. Makin riuh di kepala. Ganggu bangeeeet. Sepanjang malam sampai pagi datang. Nggak mau tuh beranjak pergi.
Akhirnya, demi ketenangan diri, demi tidur nyenyak di malam hari π, saya putuskan untuk membuat dua list terkait suara berisik itu. List pertama, alasan masih bertahan pada pekerjaan saat ini. List kedua, kemungkinan yang membuat menyerah pada pekerjaan saat ini.
Oh iya, ide nulis "dua list" pun saya dapat dari sang sponsor suara riuh di kepala loh. *definisi teman yang solutif sekali. Tanggung jawab banget sama apa yang udah dilakuin ke temannya.Tengkyuuu bruhπ
.
Butuh waktu 3 jam untuk menyelesaikan dua list itu. Sekitar 30 menit untuk menulis list yang membuat saya masih bertahan pada pekerjaan saat ini. Sementara butuh waktu 2,5 jam untuk nulis list kemungkinan saya akan menyerah pada pekerjaan saat ini. *bedanya jauh banget -____-.
Jawabannya udah kelihatan lah ya dari beda waktu nyelesain tiap listnyaπ
. Poin bertahan pada pekerjaan saat ini masih lebih unggul ketimbang poin menyerahnya. Kelar nulis list, hasilnya pun saya setor ke sponsor suara riuh di kepala. Responnya setelah nyimak "dua list" yang sepanjang 3 jam buat adalah -> "udah ketebak sih." π
Ada perasaan menyesal setelah menulis dua list itu?
NGGAK SAMA SEKALI.
Karena dengan nulis dua list itu saya tahu pasti alasan masih bertahan pada pekerjaan saat ini. Dan yang paling penting, pikiran jadi lega dan bisa tidur nyenyak sepanjang malam.
-END-
Hari ini, Sabtu, 02 Juli 2022, tepat SATU DASAWARSA ditemani kursi manis yang tetap kokoh meski sedikit pudar warnanya. Nggak ada yang spesial. Semua berjalan seperti hari biasanya. Nggak ada perayaan untuk memeriahkan. Hanya saja sepanjang hari langit tampak lebih cantik ketimbang hari biasanya. Dan yang pasti nggak ada drama igot cogotnya terapi, hiz. Terima kasih pemilik semesta.
Untuk saat ini, saya memutuskan untuk tetap berada pada (yang katanya) ZONA NYAMAN. Melanjutkan SATU DASAWARSA sampai waktu yang belum ditentukan.
Kenapa sampai waktu yang belum ditentukan?
Sederhana aja, mimpi saya setelah menikah dan punya anak kelak adalah menjadi ibu yang tetap bekerja. Itu maunya saya ya. Belum tentu maunya Allah. Saya manut apa mau-Nya Allah swt.
Selama satu dasawarsa bekerja, bohong banget kalau nggak pernah ngerasain yang namanya jenuh dan lelah sama kerjaan. Terlebih pekerjaan saya berkaitan nggak hanya dengan satu atau dua orang. Apalagi kalau udah urusannya sama jadwalin terapi murid. Duh, kadang suka mau nyeraah aja. Mau resign aja. Perkara chatan buibuk yang ..... yaudahlah ya.
Tapi itu beberapa waktu lalu, kalau sekarang sih udah bisa nge-regulasi emosi gitu (hikz bahasanya). Selalu punya kata-kata yang jadi andalan saat lelah dan rasa bosan datang menghampiri. Kata-kata yang didapat dari buku yang saya baca.
"Pada pekerjaan yang paling seru sekalipun, yang paling kita senangi sekalipun, pasti akan ada titik lelah dan jenuhnya. Dan itu nggak apa-apa karena kamu manusia biasa."
Saat ini saya sedang ada di tahap nggak peduli dengan apa kata orang lain tentang hidup saya. Orang mau bicara apa juga, toh hidup tetap akan saya sendiri yang menjalankan. Pokoke saya yang sekarang, adalah saya yang nggak butuh validasi orang lain atas bahagianya diri. Karena hidup bukan untuk ekspetasinya orang lain.
Hari-hari kedepannya, sambil memperlambat langkah, saya ingin menikmati hari-hari yang tenang pada hiruk pikuknya dunia lewat pekerjaan saat ini. Melakukan hal-hal yang disenangi tanpa menjatuhkan manusia lain. Tidak mengkhawatirkan hal-hal yang bahkan belum terjadi. Berdamai dengan halu di kepala.
Sebelum mengakhiri tulisan ini, mau kirim-kirim salam juga nggak apa-apa kan ya π.
Dear kalian yang sering kali sibuk mengkhawatirkan hidup saya, bisa nggak sih sibuknya sama hidup kalian aja. Nggak perlu sibuk sama hidupnya saya, duh π.
Dear, perjalanan umroh dan haji impian. Dear piano duduk impian, dear mobil rush juga terios yang selalu saya sholawati setiap kali bertemu, dan dear rumah impian, suatu hari kalian akan jadi milik saya kan?!
Aamiin Allahumma Aamiin
*Sepanjang saya hidup, selalu percaya dengan apa yang guru ngaji saya pernah katakan, bahwa rezeki kita memang sudah diatur oleh yang punya hidup. Kita sebagai manusia cukup mencari berkahnya lewat usaha-usaha (baik) kita.
See you di tulisan selanjutnyaaa... ♡



