Monday, October 03, 2022

, ,

OKTOBER TOGA

 

Halo hola semua ♡
Terima kasih sudah berkunjung ke blog ini. Selamat membaca cerita oktober toga ya ♡

Ini ceritaku, seorang pekerja dan mahasiswi yang akhirnya mendapatkan gelar sarjana setelah perjalanan panjang selama empat setengah tahun.

Hari itu adalah hari yang tidak akan pernah aku lupakan. Hari dimana jantungku berdetak lebih cepat dibanding biasanya. Saat langkah kaki menaiki satu persatu tangga lobi kampus menuju ruang fakultas di lantai dua. Ada perasaan campur aduk yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Berisik dan riuh sekali di kepala.

Hari itu, aku menerima sebuah amplop putih dari kampus yang aku pilih setelah melewati semua kecewa yang datang dalam bentuk takdir.

Kampus swasta yang menjadi pilihan satu-satunya setelah memutuskan untuk mengubur mimpiku menjadi mahasiswi di Universitas Negeri yang aku dambakan. Aku menerimanya meski lewat tangis berkali-kali.

Masih di ruang fakultas, pelan-pelan kubuka amplop putih berukuran 7 x 12 cm dengan  tangan yang masih gemetar. Di dalamnya tertulis nama indah pemberian kedua orang tuaku. Lebih tepatnya, nama yang ibuk pilih untuk anak perempuan satu-satunya di keluarga. Satu dari sekian hal indah yang aku miliki sepanjang hidup adalah namaku. Aku menyukainya tanpa tapi.

Sesampainya di parkiran kampus, sebelum amplop putih itu kumasukkan ke dalam tas punggungku, aku menatapnya sekali lagi. Memastikan itu bukan mimpi. Memastikan bahwa benar, aku berhasil melewati badainya, dan aku berhasil bertahan.

Sepanjang jalan pulang, air mata masih terus membasahi pipi. Rasanya masih tidak percaya aku mampu sampai di titik ini. Setelah semua lelah dan tangis yang aku lalui.

Di rumah, ibuk adalah orang pertama yang membuka amplop itu. Matanya penuh binar saat membaca kata demi kata. Bahkan ibuk memberiku selamat dan sebuah pelukan hangat.

Dua minggu sebelum hari kelulusan, aku dengan antusias menyiapkan segalanya. Sendiri dan bersikeras tidak ingin dibantu siapapun. Termasuk ibuk yang beberapa kali memaksa untuk terlibat.

Aku, memesan satu set kebaya merah muda di market place langgananku. Yups, aku tidak salah ketik dan kalian tidak salah baca. Aku memilih warna merah muda. Warna yang bahkan tidak ada dalam list warna favoritku. Selain kebaya, aku juga membeli sepasang wedges hitam di Mall yang lokasinya tidak jauh dari tempatku bekerja. 

Satu minggu sebelum Oktober datang, aku membeli satu gamis tosca untuk ibuk gunakan saat mengantarku ke acara wisuda dan membelikan sepasang sandal dengan sol hitam mengelilingi untuk bapak. Sesuai keinginannya.

Aku memilih MUA lewat rekomendasi teman sepertetanggaanku, Ari. Ari adalah sahabatku sedari kecil. Ia adalah manusia baik hati  yang juga merekomendasikan kampus itu dan membuatku yakin untuk mendaftar.

Dan hari ketiga untuk bulan ke sepuluh pun tiba. Pagi itu, setelah selesai make up, aku diantar oleh adik menuju kampus dengan motor Beat merah yang bahkan sampai hari ini masih menemani hari-hariku. Ini tahun ke empat belas Beat merah karbu itu membersamaiku. Sementara ibuk, bapak, adik, dan kakakku menyusul dengan mobil yang kakak rental dari temannya.

Sepanjang jalan menuju kampus, ingatan di kepala seakan berlari ke arahku bersama semilir angin yang menekan wajah. Ingatan tentang perjalananku menjadi seorang pekerja dan mahasiswi secara bersamaan. Tentang bagaimana aku membagi waktu untuk dua hal yang aku perjuangkan. Pagi untuk bekerja dan sore untuk kuliah. Ingatan tentang bagaimana aku mengatur keuanganku karena memutuskan untuk membiayai hidup dan kuliahku sendiri tanpa bantuan siapapun.

Aku ingat betul titik terendah sebagai seorang mahasiswi adalah hari dimana aku mendebat pembimbingku, mengeluarkan pandanganku,  kemudian memohon untuk tidak mempersulitku menyelesaikan dua bab terakhir skripsiku. Debat kusir yang alot. Aku kalah. Tapi aku menang. Aku kalah karena pada akhirnya harus mengisi KRS (Kartu Rencana Studi) tambahan untuk semester sembilan demi dua bab terakhir skripsiku, Aku menang karena setidaknya aku tidak menangis di hadapan dosen pembimbing satu dan semua karyawan di ruang fakultas. Dan yang terpenting aku menang karena mampu mengontrol setiap kalimat yang keluar dari mulutku saat debat kusir terjadi.

Hari ketiga untuk oktober  2018 akan menjadi bagian dari hidupku yang penuh haru, antusias, harapan, jawaban atas doa-doa yang pernah aku langitkan, serta senyum dan binar indah tatapan ibuk yang ikut menyaksikan dan merayakan pencapaian anak perempuan satu-satunya di keluarga. Di hari itu aku tersadar bahwa toga dan gelar yang aku dapatkan adalah sebuah kemenangan atas semua hal yang sudah aku lalui sepanjang empat setengah tahun.

Akhirnya, aku menjadi sarjana. Meski bukan dari kampus negeri yang aku dambakan, tapi ini sudah lebih dari cukup. Aku menikmati setiap langkah perjalananku. Mengapresiasi setiap keputusan yang aku buat sepanjang empat setengah tahun menjadi seorang mahasiswi.

Mungkin aku tidak secepat langkah manusia lain. Tapi setidaknya aku tetap bergerak dan maju,  aku tetap sampai di garis finishku. Aku tetap bertahan dan tanpa sorotan. Aku menerima dan menjalani takdirku dengan baik. Aku melakukan bagianku dengan setia. Aku menang dari semua putus asa yang datang dan dari semua lelah yang menusuk relung hati.

Prosesnya mungkin panjang, berat, bahkan penuh luka tapi aku tidak sendiri menjalaninya. Ada Allah yang memegangku saat tubuh ini tidak sanggup untuk berdiri atas apa yang sedang aku usahakan, ada doa-doa indah bapak dan ibuk yang selalu memberiku semangat setiap aku ingin menyerah, serta syukur yang dengan tekun kusirami.

Hari ketiga untuk Oktober 2018 adalah hari dimana aku bisa mematahkan setiap kalimat yang pernah dikatakan seseorang bahwa anak bapak dan ibuk tidak akan ada yang mampu meraih gelar sarjananya.

Hidupku yang saat ini aku jalani adalah milikku bukan milik siapapun. Suara riuh itu tidak akan membuatku patah. Tidak ada yang bisa mendikte takdirku. Tidak ada yang bisa menjatuhkanku tanpa seizinku. Akulah yang memegang setiap kendali. Bukan siapapun. 

Dan yang terakhir, meski terlambat, aku ingin berterima kasih untuk manusia-manuaia baik yang tetap bersamaku di titik terendahku sebagai seorang mahasiswi.

🌻Untuk diriku, terima kasih sudah berjuang. Aku mencintaimu lagi dan lagi. Aku menghormatimu dalam bentuk yang paling indah dan hancur. Kamu berhak dan layak atas toga wisuda itu.

🌻 Untuk keluargaku
Dear ibuk, bapak, adik, dan kakakku terima kasih sudah mendukungku sampai akhir. Terima kasih untuk buket bunga dan hadiah yang aku terima di hari wisudaku.

🌻Bang Andriy, teman kelasku di TIF B Sore. Dear bang Andriy, terima kasih sudah membantuku sampai akhir. Terima kasih karena tidak berisik dan tetap sabar menghadapiku. Semoga bang Andriy selalu bahagia dengan keluarga kecilmu ya. Maaf karena tidak menyaksikan akadmu.

🌻Ibu dosen pembimbing dua. Untuk ibu Hafiza, terima kasih karena tidak sekalipun mempersulitku saat bimbingan skripsi. Terima kasih sudah memberiku kesempatan untuk berpendapat, membujuk pembimbing satuku untuk memberikan tanda tangannya agar aku bisa mendaftar sidang di batas akhir pendaftaran akhir tahun. Semoga selalu dalam lindungan Allah Swt.

🌻Mas Adi, teman kelas TIF B Sore. Dear Mas Adi,  terima kasih sudah menjadi jembatan untukku dan staff fakultas berkomunikasi. Terima kasih sudah membantu menghubungi staff fakultas untuk menungguku sampai di kampus untuk mendaftar sidang di hari dan menit-menit akhir waktu pendaftaran sidang. Panjang umur sehat selalu ♡.

🌻 Bapak dosen favoritku.
Pak Adi adalah dosen favoritku selama menjadi mahasiswi yang menjadi pengujiku di ruang sidang skripsi.

Dear pak Adi, terima kasih sudah memberiku jeda untuk menjawab pertanyaan dengan data yang aku kumpulkan. Terima kasih sudah membantuku saat dosen pembimbing satuku menjatuhkanku di ruang sidang.

🌻 Ibuk di tempat kerja
Dear Mama Woro, terima kasih selalu membelikanku makan siang dan camilan camilan enak setiap kali mengantar Woro terapi di sepanjang aku mengerjakan skripsiku. Semoga Allah melapangkan kubur mama Woro ♡.

0 komentar:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung ke blog ini. Silakan tinggalkan komentar dengan bahasa yang baik dan santun. Salam hangat. LifahMma.