Monday, October 03, 2022

OKTOBER TOGA

 

Hari itu, jantungku berdetak lebih cepat dibanding biasanya. Saat langkah kaki menaiki satu persatu tangga lobi kampus menuju ruang fakultas yang berada di lantai dua, ada perasaan campur aduk yang bahkan tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Mereka berisik dan riuh sekali di kepala.

Aku adalah seorang pekerja dan mahasiswi yang akhirnya akan mendapatkan gelar sarjananya setelah perjalanan panjang selama empat setengah tahun. Hari itu, aku menerima sebuah amplop putih dari kampus yang aku pilih setelah melewati semua kecewa yang datang dalam bentuk takdir.

Kampus swasta yang menjadi pilihan satu-satunya setelah memutuskan untuk mengubur mimpiku menjadi mahasiswi di Universitas Negeri yang aku dambakan. Aku menerimanya meski lewat tangis berkali-kali dan amarahku kepada bapak. Selesai.

Masih di ruang fakultas, pelan-pelan kubuka amplop putih berukuran 7 x 12 cm dengan  tangan yang masih gemetar. Di dalamnya tertulis nama indah pemberian kedua orang tuaku. Nama yang ibuk pilih untuk anak perempuan satu-satunya di keluarga. Satu dari sekian hal indah yang aku miliki sepanjang hidup adalah namaku. Aku menyukainya tanpa tapi.

Sampai di parkiran kampus, sebelum amplop putih itu kumasukkan ke dalam tas punggungku, aku menatapnya sekali lagi. Memastikan itu bukan mimpi. Memastikan bahwa benar, aku berhasil melewati badainya, aku berhasil bertahan.

Sepanjang jalan pulang, air mata masih terus membasahi pipi. Rasanya masih tidak percaya aku mampu sampai di titik ini. Setelah semua lelah dan tangis yang aku lalui.

Sampainya di rumah, Ibuk adalah orang pertama yang membuka amplop itu. Matanya penuh binar saat membaca kata demi kata. Ibuk memberiku selamat dan sebuah pelukan hangat. Air matanya jatuh di pipi.

Seminggu sebelum hari kelulusan, aku dengan antusias menyiapkan segalanya. Sendiri dan bersikeras tidak ingin dibantu siapapun. Termasuk ibuk yang beberapa kali memaksa untuk terlibat.

Aku, memesan satu set kebaya merah muda di market place langgananku. Membeli sepasang wedges hitam di Mall yang lokasinya tidak jauh dari tempatku bekerja. Aku memilih kebaya merah muda. Warna yang bahkan tidak kusukai sebelumnya. Luar biasa bukan?!

Selain kebaya merah muda, aku membeli satu gamis tosca untuk ibuk di offline store favoritku dan membelikan sepasang sandal dengan sol hitam mengelilingi untuk bapak. Sesuai keinginannya.

Aku memilih MUA lewat rekomendasi teman sepertetanggaanku. Ari. Ari adalah sahabatku yang juga merekomendasikan kampus itu dan membuatku yakin untuk mendaftar.
Dan hari ketiga untuk bulan ke sepuluh pun tiba. Pagi itu, setelah selesai make up, aku diantar oleh adik menuju kampus dengan motor Beat merah yang bahkan sampai hari ini masih menemani hari-hariku. Ini tahun ke empat belas Beat merah karbu itu membersamaiku.
Sementara ibuk, bapak, adik, dan kakakku menyusul dengan mobil yang kakak rental dari temannya.

Sepanjang jalan menuju kampus, ingatan di kepala seakan berlari ke arahku bersama semilir angin yang menekan wajahku.

Tentang perjalanan panjangku menjadi seorang pekerja dan mahasiswi secara bersamaan. Membagi waktu untuk dua hal yang diperjuangkan. Pagi untuk bekerja dan sore untuk kuliah. Bukan hal yang mudah, tapi aku mampu melaluinya.

Mengingat kembali bagaimana aku mengatur keuanganku karena memutuskan untuk membiayai hidup dan kuliahku sendiri dengan gajiku yang tidak seberapa. Tanpa bantuan siapapun. Sekali lagi. Tanpa bantuan siapapun.

Mengingat kembali bagaimana aku mengejar bimbingan skripsi dan harus menerima kenyataan bahwa harus menambah satu semester lagi untuk menyelesaikan dua bab terakhir skripsiku.

Titik terendah dalam hidupku sebagai seorang mahasiswi adalah hari dimana aku mendebat pembimbingku, mengeluarkan pandanganku,  kemudian memohon untuk tidak mempersulitku menyelesaikan dua bab terakhir skripsiku. Debat kusir yang alot. Aku kalah. Tapi aku menang. Aku kalah karena pada akhirnya harus mengisi KRS (Kartu Rencana Studi) tambahan untuk semester sembilan, Aku menang karena setidaknya aku tidak menangis di hadapan dosen pembimbingku dan semua karyawan di ruang fakultas. Aku mampu mengontrol setiap kalimat yang keluar dari mulutku. Agar tidak menyakiti siapapun

Jika ditanya apakah aku memaafkan bapak dosen pembimbing satuku?!
Tentu saja aku memaafkannya. Tapi bekas lukanya mungkin akan tetap ada sepanjang aku hidup.

TIGA oktober  2018 akan menjadi bagian dari hidupku yang penuh dengan haru, antusias, harapan, jawaban doa-doa yang pernah aku langitkan, serta senyum dan binar indah tatapan ibuk yang ikut menyaksikan dan merayakan pencapaian anak perempuan satu-satunya di keluarga.

Akhirnya, aku menjadi sarjana. Meski bukan dari kampus negeri yang aku impikan. Tapi ini sudah lebih dari cukup. Aku menikmati setiap langkah perjalananku. Mengapresiasi setiap keputusan yang aku buat sepanjang empat setengah tahun menjadi seorang mahasiswi. Mungkin tidak secepat langkah manusia lain. Tapi setidaknya aku tetap bergerak dan maju,  aku tetap sampai di garis finishku. Bertahan sendiri dan tanpa sorotan.

Dan yang terpenting, aku menerima dan menjalani takdirku dengan baik. Aku melakukan bagianku dengan setia. Aku menang dari semua putus asa yang datang dan dari semua lelah yang menusuk relung hati.

Meski terlambat, aku ingin berterima kasih untuk orang-orang baik yang tetap bersamaku di titik terendahku sebagai seorang mahasiswi.

🌻Untuk diriku, terima kasih sudah berjuang. Aku mencintaimu lagi dan lagi. Aku menghormatimu dalam bentuk yang paling indah dan hancur. Kamu berhak dan layak atas toga wisuda itu.

🌻Bang andri, teman kelasku. Terima kasih sudah membantuku sampai akhir. Terima kasih karena tidak berisik dan sudah sabar mendengarkan mauku. Semoga bang Andriy selalu bahagia dengan keluarga kecilmu. Maaf karena tidak menyaksikan akadmu.

🌻Ibu dosen pembimbing dua. Terima kasih karena tidak sekalipun mempersulitku saat bimbingan skripsi. Terima kasih sudah membujuk pembimbing satuku untuk memberikan tanda tangannya agar aku bisa mendaftar sidang di batas akhir pendaftaran akhir tahun.

🌻Mas Adi, teman kelasku yang membantu menghubungi mas dan mba fakultas untuk menungguku mendaftar sidang di hari dan menit-menit akhir waktu pendaftaran sidang.

🌻 Bapak dosen favoritku selama menjadi mahasiswi. Beliau menjadi pengujiku di ruang sidang. Memberiku pertanyaan, memberiku jeda untuk menjawab pertanyaan dengan data yang aku kumpulkan. Beliaulah yang membantuku saat bapak dosen pembimbing satuku menjatuhkanku di ruang sidang.

🌻 Ibuk di tempat kerja yang selalu membelikanku makan siang sepanjang aku mengerjakan skripsi selama enam bulan. Setiap kali mengantar terapi putrinya, beliau tidak pernah absen untuk sekedar bertanya tentang makan siangku.

Dan yang terakhir
Untuk bulan kelahiranku, Oktober.
Ini tahun keempat aku menyukaimu, lebih. Sebelumnya, Oktober, selalu ku labeli dengan "bulan duka". Karena dua dari manusia yang aku sayangi kembali ke Rabb-Nya. Rasanya ada sebagian dari diriku yang ikut hilang bersama kepergian mereka. Sampai saat ini, aku masih merapikan sisa-sisa pilu yang berantakan. Kabar baiknya aku mampu melewatinya. Tanpa riuh. Tanpa mencela takdir.

Prosesnya mungkin panjang, berat, bahkan penuh luka tapi aku tidak sendiri menjalaninya. Ada Allah yang memegangku saat aku tidak sanggup untuk berdiri atas apa yang aku usahakan, ada doa-doa indah bapak dan ibuk yang memberiku semangat setiap aku ingin menyerah, serta syukurku yang dengan tekun kusirami.

Hari ketiga untuk Oktober 2018 adalah hari dimana aku bisa membuktikan pada beliau yang pernah mengatakan bahwa anak bapak dan ibuk tidak akan mampu meraih gelar sarjana.

Aku, tidak butuh validasi orang lain atas apa yang aku capai dalam hidup. Suara riuh mereka tidak akan membuatku patah dan jatuh. Aku memacunya lewat usaha serta doa indah ibuk dan bapak yang membersamaiku di setiap langkah.

Hidupku yang saat ini aku jalani adalah milikku bukan milik siapapun. Tidak ada yang bisa menjatuhkanku tanpa seizinku. Akulah yang memegang setiap kendali. Bukan mereka.

READ MORE... OKTOBER TOGA