Sunday, January 01, 2023
Saturday, December 31, 2022
Monday, December 05, 2022
Sunday, December 04, 2022
Saturday, December 03, 2022
Friday, December 02, 2022
Thursday, December 01, 2022
A DAY IN MY LIFE
Halo Hola people,
Apa kabar hari pertama untuk Desembernya?
Semoga tetap kuat hati dan mentalnya yes. Ngerasa nggak sih 2022 tuh terasa agak cepat banget haha. Tetiba udah di penghujung tahun aja. Tahu-tahu menuju 2023 aja.
Udah dari kapan kepikiran mau buat A Day in My Life macam ibuk Dhatu Rembulan gitu. Dan taraa... hari ini A Day In My Life versi seorang LIFAH pun launching *sujud syukur jiwa mager berhasil dienyahkan haha.
Karena kebanyakan orang buatnya versi video (termasuk ibuk Dhatu rembulan pastinya), saya putuskan buat yang versi tulisan blog aja. Biar saling melengkapi gitu. *Ah bilang aja mager rekam dan edit video kan, Fah?!. Haha
Selamat menikmati tulisan ini..
BANGUN TELAT
Ibuk adalah alarm tahajud sepanjang hidup. Alarm handphone diatur mendekati waktu subuh untuk jaga-jaga semisal ibuk kesiangan.
Dan hari ini ternyata ibuk kesiangan, satu rumah juga ikutan haha. Menuju adzan subuh, alarm handphone jadi pahlawan untuk kami sekeluarga. Saya adalah member yang pertama bangun karena suara alarm.
"Subuh subuh. sholat sholat", kata saya sepanjang lorong melewati dua pintu kamar yang berjajar.
"Yah, nggak tahajudan deh", kata ibuk sambil berlalu menuju kamar mandi.
Ambil wudhu, lanjut sholat. Kelar lipaat sajadah, melipir ke kamar (lagi) untuk absen baca tulisannya pak Dahlan Iskan. Kira-kira sepuluh sampai lima belas menit. Kelar baca, lanjut baking pesanan martabak mini untuk bestienya ibuk. Agak mengejutkan sih tetiba ibuk jadi buka PO Martabak mini haha. Definisi Ibu yang buka PO, saya yang sibuk baking. Ini gimana ceritanya sih?! haha. Tapi Alhamdulillah disyukuri.
Kelar toping dan packing martabak, lanjut mandi yang nggak pakai lama. Kira-kira 10 menitan maksimalnya. Kenapa? karena mandi lama di pagi hari, terlebih di hari kerja, peluang pintu kamar mandi digedor ibuk adalah 99% sih haha.
"Gantiaaaaan mba!" senjata pamungkasnya ibuk saat gedor pintu kamar mandi untuk menyudahi kegiatan anaknya di dalam kamar mandi 🤸🏻.
Sudah rapih, sudah sarapan, dan yang pasti sudah cantik, saatnya berangkaaaat.
SAMPAI SEKOLAH 👏
Karena (tumben) jalanan sepi yang otomatis nggak macet di pertigaan Al-Azhar Summarecon, sekitar dua puluh menit-an sudah sampai parkiran sekolah.
Masih ada waktu lima belas menit menuju masuk kelas. Melipir ke ruang komputer untuk print materi kelas hari selanjutnya. Nyambi nunggu selesai print, seperti biasa, nge-youtubelah saya sambil cek email untuk bersih-bersih spam.
MASUK KELAS
Pukul 07.27 wib bel tanda masuk kelas terdengar di penjuru ruangan. Refleks pandangan menuju jam dinding, ternayat bel-nya bunyi lebih cepat tiga menit dari yang seharusnya -________-. Karena nggak mau rugi (lumayan tiga menit ya kan), selesai kelas niatnya mau komplain ke mamang Jajat yang bunyiin bel. Kalau nggak lupa ya karena seringnya sih lupa haha. *dan ternyata beneran LUPA.
SELESAI KELAS
Bagaimana sepanjang mengajar murid hari ini?!
Seperti biasa, selalu ada drama "tarik nafas banyak-banyak, hembuskan". Selebihnya baik-baik saja.
*tunggu tulisan tentang #pojokkelas-nya ibuk guru dan murid-murid ya. Seru deh. Soon.
Pukul 10.05 wib naik ke ruang terapi di lantai dua untuk igot cogotnya terapi. Lagi pusing-pusingnya urus drama klaim asuransi murid terapi. Dan kali ini bukan cuma satu tapi klaim, tapi ada dua klaim yang berdrama.
*Dret dret dret getar alarm handphone dari dalam laci meja. Pertanda sudah pukul 11.00 wib yang mengharuskan saya turun ke bawah untuk dampingi Belva (cucu pemilik yayasan) ♡ belajar baca tulis hitung. Alhamdulillah full senyum sampai selesai. Meski dengan drama "ayo pulang" di sela-sela belajarnya.
ISHOMA (istirahat sholat makan)
Hari ini mutusin untuk nggak jajan di depan masjid Al-Muhajirin seperti Kamis biasanya. Nggak punya semangat buat jalan kaki jauh tsaay. Pun malas nyalain mesin motor. Akhirnya mutusin beli warteg yang walaupun mesti jalan kaki juga, tapi ya lebih dekat ketimbang jalan sampai depan masjid. Demi makan siang. Haha
Menu warteg hari ini nasi cumi cabai hijau, jamur oseng ditambah kikil bumbu kuning. Cukup 15.000 rupiah udah berlimpah banget lauk pauknya. Plus dapat es teh tawar gratis pula. Semisal jajan depan masjid udah pasti keluar uang lebih dari harga nasi warteg. Seblak 10.000, rujak jambu kristal 10.000, belum lagi teh tarik warung madura 6.000. Definisi jiwa mager bisa menghemat pengeluaran nggak sih. Kelar makan lanjut sholat. Selesai sholat, rapih-rapih ruangan persiapan pulang. *Mari pulang marilah pulang (bacanya pakai nada, please!
RUMAH
Arrived safely. Karena jalanan siang ini sama sepinya seperti pagi tadi, pukul 13.20 wib udah bisa duduk manis di kursi ruang tamu. Istirahat sebentar lanjut cuci kaki, muka, salin baju, melipir ke kasur. Tidur siang tuh sebisa mungkin saya lakuin untuk charge tenaga supaya kuat sampai malam. Karena ya masih ada setumpuk aktivitas yang udah nungguin.
Pukul 15.30 wib getar alarm handphone memaksa saya untuk bangun. Ashar-an, lanjut jemput ibuk negara. Sampai rumah langsung ngupik abu supaya leyeh-leyehnya bisa agak lama. Kelar ngupik abu, mandi lanjut ngedrakor. It's time to leyeh-leyeh ceunah. Oh iya saya lagi nontonin drama korea yang judulnya "Revenge Other". Drama trailer versi anak SMA. Pemainnya Shin Ye Eun dan Park Salomon. Menuju kelar dua episode, adzan Maghrib pun berkumandang, melipir wudhu, sholat, lanjut manjangin ain bacaan, hafalan surah, dan nggak lama kemudian adzan isya. Yuk Isya-an.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh" *please, bacanya pakai nada!
Ega dan Fida datang. Dua siblings yang sebentar ribut sebentar akur, hari ini datang lebih awal. Alasannya supaya cepat selesai jadi bisa pulang untuk main handphone lebih lama. Haha
Malam ini, satu belajar kisi-kisi penilaian akhir semester. Satunya kerjain PR IPA yang bentuknya ala-ala teka-teki silang. Alhamdulillah full senyum sampai selesai. Sampai mereka pulang. Nggak ada drama seperti hari-hari biasanya.
Jam menunjukkan pukul 20.30 wib. Jiwa raga maunya melipir ke kasur untuk rebahan. Tapi kepikiran belum buat materi kelas untuk lusa. Akhirnya ya buka laptop. Karena tahu pasti besok pagi nggak mungkin bisa multitasking. Urus materi juga baking martabak, belum lagi absen baca tulisan pak Dahlan Iskan via disway.id.
Selesai ketak-ketik materi kelas, lanjut skincare-an. Di sela-sela nunggu toner dan teman-temannya terserap dengan baik di kulit wajah, tulisan ini pun dibuat.
-END-
Terima kasih sudah membaca A Day In My Life-nya seorang Lifah. Sampai jumpa ditulisan berikutnya ya ♡
Monday, October 03, 2022
OKTOBER TOGA
Hari itu, jantungku berdetak lebih cepat dibanding biasanya. Saat langkah kaki menaiki satu persatu tangga lobi kampus menuju ruang fakultas yang berada di lantai dua, ada perasaan campur aduk yang bahkan tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Mereka berisik dan riuh sekali di kepala.
Aku adalah seorang pekerja dan mahasiswi yang akhirnya akan mendapatkan gelar sarjananya setelah perjalanan panjang selama empat setengah tahun. Hari itu, aku menerima sebuah amplop putih dari kampus yang aku pilih setelah melewati semua kecewa yang datang dalam bentuk takdir.
Kampus swasta yang menjadi pilihan satu-satunya setelah memutuskan untuk mengubur mimpiku menjadi mahasiswi di Universitas Negeri yang aku dambakan. Aku menerimanya meski lewat tangis berkali-kali dan amarahku kepada bapak. Selesai.
Masih di ruang fakultas, pelan-pelan kubuka amplop putih berukuran 7 x 12 cm dengan tangan yang masih gemetar. Di dalamnya tertulis nama indah pemberian kedua orang tuaku. Nama yang ibuk pilih untuk anak perempuan satu-satunya di keluarga. Satu dari sekian hal indah yang aku miliki sepanjang hidup adalah namaku. Aku menyukainya tanpa tapi.
Sampai di parkiran kampus, sebelum amplop putih itu kumasukkan ke dalam tas punggungku, aku menatapnya sekali lagi. Memastikan itu bukan mimpi. Memastikan bahwa benar, aku berhasil melewati badainya, aku berhasil bertahan.
Sepanjang jalan pulang, air mata masih terus membasahi pipi. Rasanya masih tidak percaya aku mampu sampai di titik ini. Setelah semua lelah dan tangis yang aku lalui.
Sampainya di rumah, Ibuk adalah orang pertama yang membuka amplop itu. Matanya penuh binar saat membaca kata demi kata. Ibuk memberiku selamat dan sebuah pelukan hangat. Air matanya jatuh di pipi.
Seminggu sebelum hari kelulusan, aku dengan antusias menyiapkan segalanya. Sendiri dan bersikeras tidak ingin dibantu siapapun. Termasuk ibuk yang beberapa kali memaksa untuk terlibat.
Aku, memesan satu set kebaya merah muda di market place langgananku. Membeli sepasang wedges hitam di Mall yang lokasinya tidak jauh dari tempatku bekerja. Aku memilih kebaya merah muda. Warna yang bahkan tidak kusukai sebelumnya. Luar biasa bukan?!
Selain kebaya merah muda, aku membeli satu gamis tosca untuk ibuk di offline store favoritku dan membelikan sepasang sandal dengan sol hitam mengelilingi untuk bapak. Sesuai keinginannya.
Aku memilih MUA lewat rekomendasi teman sepertetanggaanku. Ari. Ari adalah sahabatku yang juga merekomendasikan kampus itu dan membuatku yakin untuk mendaftar.
Dan hari ketiga untuk bulan ke sepuluh pun tiba. Pagi itu, setelah selesai make up, aku diantar oleh adik menuju kampus dengan motor Beat merah yang bahkan sampai hari ini masih menemani hari-hariku. Ini tahun ke empat belas Beat merah karbu itu membersamaiku.
Sementara ibuk, bapak, adik, dan kakakku menyusul dengan mobil yang kakak rental dari temannya.
Sepanjang jalan menuju kampus, ingatan di kepala seakan berlari ke arahku bersama semilir angin yang menekan wajahku.
Tentang perjalanan panjangku menjadi seorang pekerja dan mahasiswi secara bersamaan. Membagi waktu untuk dua hal yang diperjuangkan. Pagi untuk bekerja dan sore untuk kuliah. Bukan hal yang mudah, tapi aku mampu melaluinya.
Mengingat kembali bagaimana aku mengatur keuanganku karena memutuskan untuk membiayai hidup dan kuliahku sendiri dengan gajiku yang tidak seberapa. Tanpa bantuan siapapun. Sekali lagi. Tanpa bantuan siapapun.
Mengingat kembali bagaimana aku mengejar bimbingan skripsi dan harus menerima kenyataan bahwa harus menambah satu semester lagi untuk menyelesaikan dua bab terakhir skripsiku.
Titik terendah dalam hidupku sebagai seorang mahasiswi adalah hari dimana aku mendebat pembimbingku, mengeluarkan pandanganku, kemudian memohon untuk tidak mempersulitku menyelesaikan dua bab terakhir skripsiku. Debat kusir yang alot. Aku kalah. Tapi aku menang. Aku kalah karena pada akhirnya harus mengisi KRS (Kartu Rencana Studi) tambahan untuk semester sembilan, Aku menang karena setidaknya aku tidak menangis di hadapan dosen pembimbingku dan semua karyawan di ruang fakultas. Aku mampu mengontrol setiap kalimat yang keluar dari mulutku. Agar tidak menyakiti siapapun
Jika ditanya apakah aku memaafkan bapak dosen pembimbing satuku?!
Tentu saja aku memaafkannya. Tapi bekas lukanya mungkin akan tetap ada sepanjang aku hidup.
TIGA oktober 2018 akan menjadi bagian dari hidupku yang penuh dengan haru, antusias, harapan, jawaban doa-doa yang pernah aku langitkan, serta senyum dan binar indah tatapan ibuk yang ikut menyaksikan dan merayakan pencapaian anak perempuan satu-satunya di keluarga.
Akhirnya, aku menjadi sarjana. Meski bukan dari kampus negeri yang aku impikan. Tapi ini sudah lebih dari cukup. Aku menikmati setiap langkah perjalananku. Mengapresiasi setiap keputusan yang aku buat sepanjang empat setengah tahun menjadi seorang mahasiswi. Mungkin tidak secepat langkah manusia lain. Tapi setidaknya aku tetap bergerak dan maju, aku tetap sampai di garis finishku. Bertahan sendiri dan tanpa sorotan.
Dan yang terpenting, aku menerima dan menjalani takdirku dengan baik. Aku melakukan bagianku dengan setia. Aku menang dari semua putus asa yang datang dan dari semua lelah yang menusuk relung hati.
Meski terlambat, aku ingin berterima kasih untuk orang-orang baik yang tetap bersamaku di titik terendahku sebagai seorang mahasiswi.
🌻Untuk diriku, terima kasih sudah berjuang. Aku mencintaimu lagi dan lagi. Aku menghormatimu dalam bentuk yang paling indah dan hancur. Kamu berhak dan layak atas toga wisuda itu.
🌻Bang andri, teman kelasku. Terima kasih sudah membantuku sampai akhir. Terima kasih karena tidak berisik dan sudah sabar mendengarkan mauku. Semoga bang Andriy selalu bahagia dengan keluarga kecilmu. Maaf karena tidak menyaksikan akadmu.
🌻Ibu dosen pembimbing dua. Terima kasih karena tidak sekalipun mempersulitku saat bimbingan skripsi. Terima kasih sudah membujuk pembimbing satuku untuk memberikan tanda tangannya agar aku bisa mendaftar sidang di batas akhir pendaftaran akhir tahun.
🌻Mas Adi, teman kelasku yang membantu menghubungi mas dan mba fakultas untuk menungguku mendaftar sidang di hari dan menit-menit akhir waktu pendaftaran sidang.
🌻 Bapak dosen favoritku selama menjadi mahasiswi. Beliau menjadi pengujiku di ruang sidang. Memberiku pertanyaan, memberiku jeda untuk menjawab pertanyaan dengan data yang aku kumpulkan. Beliaulah yang membantuku saat bapak dosen pembimbing satuku menjatuhkanku di ruang sidang.
🌻 Ibuk di tempat kerja yang selalu membelikanku makan siang sepanjang aku mengerjakan skripsi selama enam bulan. Setiap kali mengantar terapi putrinya, beliau tidak pernah absen untuk sekedar bertanya tentang makan siangku.
Dan yang terakhir
Untuk bulan kelahiranku, Oktober.
Ini tahun keempat aku menyukaimu, lebih. Sebelumnya, Oktober, selalu ku labeli dengan "bulan duka". Karena dua dari manusia yang aku sayangi kembali ke Rabb-Nya. Rasanya ada sebagian dari diriku yang ikut hilang bersama kepergian mereka. Sampai saat ini, aku masih merapikan sisa-sisa pilu yang berantakan. Kabar baiknya aku mampu melewatinya. Tanpa riuh. Tanpa mencela takdir.
Prosesnya mungkin panjang, berat, bahkan penuh luka tapi aku tidak sendiri menjalaninya. Ada Allah yang memegangku saat aku tidak sanggup untuk berdiri atas apa yang aku usahakan, ada doa-doa indah bapak dan ibuk yang memberiku semangat setiap aku ingin menyerah, serta syukurku yang dengan tekun kusirami.
Hari ketiga untuk Oktober 2018 adalah hari dimana aku bisa membuktikan pada beliau yang pernah mengatakan bahwa anak bapak dan ibuk tidak akan mampu meraih gelar sarjana.
Aku, tidak butuh validasi orang lain atas apa yang aku capai dalam hidup. Suara riuh mereka tidak akan membuatku patah dan jatuh. Aku memacunya lewat usaha serta doa indah ibuk dan bapak yang membersamaiku di setiap langkah.
Hidupku yang saat ini aku jalani adalah milikku bukan milik siapapun. Tidak ada yang bisa menjatuhkanku tanpa seizinku. Akulah yang memegang setiap kendali. Bukan mereka.


